Sunnahnya hubungan intim suami istri pada hari jum’at dan malamnya

Disunnahkan berhubungan suami-istri pada malam dan hari jum’at didasarkan penafsiran para ulama tentang hadits berikut:

Dari Aus bin Aus, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dengan mencuci kepala dan anggota badan lainnya, lalu ia pergi di awal waktu atau ia pergi dan mendapati khutbah pertama, lalu ia mendekat pada imam, mendengar khutbah serta diam, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan shalat setahun.” (HR. Tirmidzi no. 496. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Baca lebih lanjut

Larangan melaknat ulama-ulama Asy’ariyyah

Berkata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 4 hal. 16:

 وَأَمَّا لَعْنُ الْعُلَمَاءِ لِأَئِمَّةِ الْأَشْعَرِيَّةِ فَمَنْ لَعَنَهُمْ عُزِّرَ. وَعَادَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ فَمَنْ لَعَنَ مَنْ لَيْسَ أَهْلًا لِلَّعْنَةِ وَقَعَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ. وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ.

“Siapa yang melaknat ulama Asy-ariyyah, maka dia dita’zir. Dan laknatan dia (atas ulama Asy’ariyyah) kembali kepada dirinya sendiri. Siapa yang melaknat orang yang tidak layak dilaknat, maka ia akan terkena laknatnya sendiri. para ulama itu penjaga perkara-perkara furu’ (cabang) dalam agama. Para ulama Asy’ariyyah itu penjaga perkara-perkara ushul (pokok) dalam agama.”

Sedikit penjelasan kosa-kata:

  • Ulama asy’ariyyah: ulama yang berpendapat takwil dalam sifat-sifat perbuatan Allah (lihat contohnya di posting saya sebelumnya)
  • Laknat: cercaan, mendoakan kesengsaraan di dunia dan akhirat, mendoakan jauh dari rahmat Allah
  • Ta’zir: hukuman peringatan, hukuman yg ditentukan oleh pemerintah (karena tidak ada dalil sharih tentangnya)
  • Perkara ushul dalam agama: perkara pokok dalam agama seperti rukun Iman, rukun Islam dan perkara-perkara yang sangat jelas sekali dalam Islam.

Faidah ucapan Ibnu Taimiyah:

  • Ulama-ulama asy’ariyah seperti Imam Baihaqi, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz Ibnu Hajar dan ulama Asy’ariyyah lainnya adalah termasuk para ulama islam. Mereka adalah orang-orang yang sangat mulia, memiliki kebaikan yang banyak dan amat berjasa kepada kaum muslimin. Kita wajib mencintai mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka.
  • Dilarangnya mencela ulama kaum muslimin, termasuk ulama-ulama Asy’ariyyah.
  • Memperingatkan orang-orang yang mencerca (mencela) ulama-ulama Islam termasuk ulama-ulama Asy’ariyyah. Pemerintah berhak menghukum mereka dengan hukuman yang dapat membuat pelakunya jera.
  • Ulama-ulama Asy’ariyyah telah menjadi penolong dan penjaga pokok-pokok agama ini, seperti tentang keimanan, hukum-hukum fiqih, makna-makna hadits dll. Sebagai contoh, Imam An-Nawawi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar masing-masing memiliki kitab syarh hadits yang paling sering dirujuk oleh ummat Islam saat ini, yakni Al-Minhaj syarh Shahih Muslim dan Fathul Bari syarah Shahih Bukhari.

Penjelasan hadits “Di mana Allah?” oleh Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi menjelaskan hadits “Di mana Allah” di kitab syarh-nya jilid 5 halaman 24-25:

shsm05 (silahkan download)

Saya akan mengutip perkataan Imam An-Nawawi tersebut dan menterjemahkannya bagian per-bagian. Imam An-Nawawi menulis di kitabnya Syarh shahih muslim jilid 5 hal. 24-25:

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

[01] Tentang pertanyaan Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kepada seorang jariyah (budak wanita): “di mana Allah?”, kemudian jariyah tersebut menjawab: “di langit”, kemudian beliau bertanya: “Siapakah aku?” Jariyah tersebut menjawab: “Engkau adalah Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “Merdekakanlah ia karena sesungguhnya dia orang yg mukmin (beriman)”.

Baca lebih lanjut